EnglishIndonesian
allammedica watches for men
Pakai Pupuk KOHE, Kualitas Makin OKE
Pakai Pupuk KOHE, Kualitas Makin OKE

"Hei, sudah lama nunggu?", ujar suara yang sudah tidak asing di telinga kami.

Beliau adalah Pak Bejo Sampurno, petani sawit berkelanjutan Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh, yang tinggal di Desa Sungai Rotan, Jambi. "Bentar ya, saya taruh rumput dulu", sambungnya.

 

Sore itu sekitar pukul 17 lewat, Pak Bejo baru saja pulang sehabis mengumpulkan rumput. Kami sudah menunggu kepulangan beliau di depan rumahnya.

 

Rumput-rumput yang dibawa Pak Bejo adalah pakan untuk ternak kambingnya.

Rumput dibawa menggunakan motor yang sudah dimodifikasi, sehingga memiliki keranjang di sisi kanan dan kiri jok bagian belakang.

Rumput yang dikumpulkan menggunung dan hampir memenuhi jok motornya, hingga Pak Bejo pun tidak kebagian tempat duduk nyaman saat mengendarai motor.

 

Berbicara mengenai ternaknya, Pak Bejo tak hanya sekedar memelihara 10 ekor kambing, melainkan turut memanfaatkan kotoran padat sebagai pupuk di lahan sawitnya, "saya gunakan pupuk padat dari kotoran kambing sejak 2018 sampai sekarang".

 

Dulunya Pak Bejo menggunakan sejumlah campuran untuk membuat pupuk dari kotoran hewan atau yang biasa disebut kohe, namun karena sulitnya mengakses EM4 (larutan yang mengandung banyak bakteri), maka ia memutuskan untuk hanya menggunakan kotoran padat kambing, "pertama kali kita gunakan pupuk organik kita buat sendiri dari bahan EM4, gula merah dicampur dengan pupuk kandang yang pupuk padat tadi, air kencing kambing tersebut selama setengah bulan, hasilnya cukup memuaskan dibubuhkan di pinggiran pokok sawit. Untuk berikutnya kita mencari EM4 susah, maka itu kita sekarang langsung pupuk padat tadi kita langsung tebarkan di sekeliling pokok sawit. Alhamdulillah hasilnya nggak begitu jauh dengan yang pertama tadi".

 

Dalam satu minggu, Pak Bejo bisa mengumpulkan 5-7 karung kotoran kambing dengan berat masing-masing karung mencapai 20 kg. Menurutnya, agar maksimal satu karung kotoran kambing lebih baik diaplikasikan pada satu pokok sawit, "dalam satu tahun kita gunakan kotoran kambing bisa tiga kali, otomatis 4 bulan sekali baru sampai rotasinya".

 

Pak Bejo beralih dari menggunakan pupuk kimia menjadi organik, karena ia menilai kondisi daun yang menggunakan pupuk kimia mulai menguning, ia pun memilih untuk menggunakan pupuk ramah lingkungan tanpa efek samping.

Meski begitu, ia mewanti-wanti jika penggunaan pupuk kimia membutuhkan perawatan intensif, mulai dari membuat pupuk hingga mencari rumput untuk makan kambing-kambingnya, “memang perawatannya agak ekstralah dan lagi kita harus sabar. Masalahnya apa? Dia nggak langsung cepat, tapi hasilnya memuaskan. Jangka panjangnya dalam satu tahun kelihatan betul dan hasil rumput kanan kirinya bisa untuk pakan ternak tersebut”.

 

Selama menggunakan pupuk kohe, Pak Bejo merasakan banyak dampak positif, mulai dari membaiknya kondisi tanah, daun dan kualitas tandan buah segar (TBS), “jelasnya musim kering kita nggak begitu jauh perbedaannya, dalam satu hektar setengah mendapatkan 2 ton setengah. Banyak positifnya kalau pakai pupuk organik yaitu tadi satu, kalau dari pupuk kandang murah, nggak susah lagi, nggak cari uang untuk sisihkan beli pupuk kimia lagi, rumputnya bisa untuk makan kambing, (rumput) kita terbas, kumpulkan masukkan ke karung untuk pakan kambing”.

 

Semangat Pak Bejo patut diacungi jempol dan menjadi inspirasi. Ia mencari asupan terbaik untuk pohon sawitnya, sehingga pohon tersebut bisa memberikan timbal balik berupa TBS yang berkualitas, serta membaiknya lingkungan untuk masa depan Pak Bejo dan keluarga, “keberhasilan tadi ditentukan oleh kita sekarang. Dengan menggunakan pupuk organik kita bisa menjaga kualitas tanah dan bisa digunakan oleh anak cucu kita untuk berikutnya. Ini bisa juga jadi warisan bagi mereka kelak".


•••


FONAP - FORTASBI - Yayasan Setara Jambi berkolaborasi dalam perbaikan lansekap berupa Pertanian Regeneratif.

Kolaborasi sudah dilakukan sejak tahun lalu, di antaranya melalui penerapan pupuk organik (bio-urine dan jangkos), penerbasan kebun, dan pemulihan sungai dengan metode Lubuk Larangan.


Ikuti kami di media sosial lain:

Instagram: @fortasbi.indonesia

Facebook: Yayasan FORTASBI Indonesia

LinkedIn: Yayasan FORTASBI Indonesia

Youtube: Yayasan FORTASBI Indonesia




Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)