EnglishIndonesian
2000 Orang Belajar Standar Minyak Sawit Berkelanjutan di Dunia Maya
2000 Orang Belajar Standar Minyak Sawit Berkelanjutan di Dunia Maya

Petani Swadaya adalah petani yang memiliki sumbangan signifinant terhadap produksi minyak sawit di Indonesia. Dari total luas perkebunan kelapa sawit yang mencapai 16 juta Ha, sekitar 45% adalah dikelola oleh petani swadaya dengan jumlah sekitar 2,7 juta KK. Jika 1 KK memiliki 5 jiwa, maka sekitar 14 juta jiwa yang mendapatkan manfaat dari kelapa sawit ini. 

Agar kelapa sawit ini tidak hanya memberi manfaat bagi 2,7 juta KK, tapi juga memberi manfaat bagi kelestarian lingkungan, maka buatlah standar minyak sawit berkelanjutan untuk melakukan pengukuran apakah kelapa sawit yang dihasilkan oleh petani memang diproduksi dari praktek terbaik dan ramah lingkungan. 

Standar Minyak Sawit Berkelanjutan tersebut dikenal dengan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) yang diinisiasi oleh pasar, dan ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) yang digagas oleh Pemerintah Indonesia. Standar ini tidak hanya berlaku bagi pelaku minyak sawit skala besar, tapi juga berlaku bagi petani kecil.

Sebetulnya, minyak sawit berkelanjutan tidak melulu harus disertifikasi, karena harusnya para pelaku minyak sawit menggunakan cara-cara terbaik dalam pengelolaan dan produksi minyak sawit, karena memang seharusnya demikian. Tapi fakta yang terjadi adalah pengelolaan dan produksi minyak sawit jauh dari rangka keberlanjutan, sehingga sertifikasi hadir untuk “memaksa” para pelaku agar taat dan tunduk atas standar yang telah ditetapkan jika ingin produk diterima oleh pasar.

Tahun 2020, adalah momen penting, dimana standar RSPO yang sederhana telah dapat digunakan oleh petani swadaya, dan pada tahun ini pula ISPO menemukan titik terang. Namun kegembiraan ini tersandung dengan hadirnya bencana pandemic Covid 19 yang merebak di Indonesia sejak Bulan Maret 2020 lalu, yang nyaris menghentikan semua aktifitas manusia, termasuk rencana untuk melakukan percepatan implementasi standar ISPO dan RSPO. Situasi ini mendorong FORTASBI, RSPO dan SPKS melakukan sosialisasi dan pelatihan menggunakan virtual, yang dikenal dengan SustainTalk.

SustainTalk ini adalah ruang diskusi dan berbagi pengalaman bagi semua pelaku disektor kelapa sawit dengan perekat adalah petani swadaya. Ada 10 sessi yang dilaksanakan dengan menghadirkan nara sumber dari berbagai kategori, yaitu, Petani swadaya, Perusahaan, NGO, pendamping petani, pembeli dan bahkan auditor hadir untuk berbagi.

Sesi SustainTalk dimulai pada 11 Juni 2020, dan berakhir pada 6 Agustus 2020 lalu ini dihadiri hampir 2.000 peserta dimana setiap sessi peserta yang terlibat adalah mencapai 200-280 peserta. Peserta berasal dari berbagai macam latar belakang berbeda. Tak hanya petani yang hadir, tapi juga perusahaan, NGO, pemerintah, dan bahkan dari akademisi. Peserta berasal dari berbagai propinsi di Indonesia, dari Aceh hingga Sulawesi Selatan.


Semua materi dan topik yang dibahas pada sessi SustainTalk tersebut sangat menarik, dari pembahasan mengenai teknis dan strategi mengimplementasikan standar minyak sawit berkelanjutan (pengalaman petani, pengalaman NGO pendamping dan pengalaman perusahaan) hingga berbagi cerita dengan auditor yang selama ini banyak mengaudit petani swadaya menuju sertifikasi RSPO dan ISPO. Dalam sesi dengan auditor, ditemukan bahwa 10 tertinggi temuan adalah terletak pada Legalitas lahan petani, praktek budidaya, dan pengelolaan Limbah B3.

Ada satu sessi yang pesertanya cukup banyak yaitu sessi 4, berbagi dengan para pembeli, dimana peserta yang terdaftar dan terlibat dalam diskusi mencapai 280 peserta, sehingga panitia harus membuka sessi di youtube agar peserta yang tidak dapat mendaftar karena keterbatasan quota seat, dapat menikmati sessi ini. Pada sessi dengan pembeli, hadir pembicara dari The Body Shop, PepsiCo dan Unilever.



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)