EnglishIndonesian
Ketika Sustainability Mendorong Perbaikan Interaksi Sosial
Ketika Sustainability Mendorong Perbaikan Interaksi Sosial

Tulisan ini disadur dari tulisan Tri Ariyanto Yayasan Setara Jambi

Gapoktan Tanjung Sehati (GTS) adalah Kelompok Petani Swadaya yang berkedudukan di Desa Mekar Jaya, Kabupaten Merangin Jambi. Desa ini adalah termasuk desa yang berada berbatasan dengan penyangga Taman Nasional Bukit 12. Desa Mekar Jaya, adalah desa hasil dari pemekaran Desa Bungo Tanjung sekitar 10 tahun lalu. Desa Bungo Tanjung adalah desa transmigran yang penduduknya mayoritas berasal dari Jawa Tengah yang ikut program transmigrasi dari pemerintah di tahun 1980.

Tahun 2014 lalu GTS berhasil mendapatkan sertifikat RSPO yang kedua di Indonesia setelah Asosiasi Amanah di Riau. Proses menuju sertifikasi itu bukan tanpa hambatan, dari kendala rendahnya dukungan dari Pemerintah dan juga Perusahaan terdekat menjadi persoalan utama lambatnya kelompok ini mendapatkan sertifikat RSPO. Tidak heran jika GTS membutuhkan waktu sekitar 6 tahun untuk lolos mendapatkan sertifikat RSPO.

Implementasi standar minyak sawit berkelanjutan melalui skema RSPO tentu adalah hal baru bagi petani, tidak hanya dalam melakukan perubahan dalam perilaku dan pola manajemen internal, tapi juga pola perilaku dan interaksi dengan pihak eksternal diluar GTS. Dikarenakan desa dimana GTS dan anggotanya beroperasi menjadi desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Bukit 12, tentu memiliki interaksi cukup besar dengan satwa dan juga penduduk lokal yang berada di wilayah penyangga Taman Nasional Bukit 12, yaitu Orang Rimba. Dalam lanskap GTS, mereka berinteraksi cukup besar dengan Kelompok Orang Rimba Makekal Hulu. Kelompok Orang Rimba Makekal Hulu memiliki anggota sebanyak ± 175 kk. Sebagai sebuah kelompok, Orang Rimba Makekal Hulu memiliki pemerintahan sendiri seperti layaknya pemerintahan desa yaitu 1) Kepala Adat, 2) Tengganai, 3) Temenggung, 4) Wakil Temenggung, 5) Depati, 6) Mangku, dan 7) Menti.

Beberapa waktu lalu antara masyarakat Desa Trans (tidak hanya Desa Mekar Jaya) dengan kelompok Orang Rimba sering terjadi ketegangan. Ini terjadi karena keberadaan desa transmigrasi di sekeliling Taman Nasional Bukit 12 telah memberikan dampak besar bagi perubahan pola hidup dan budaya Orang Rimba, tak terkecuali perubahan penggunaan lahan. Jika dulu Orang Rimba bebas untuk melangun dan mengambil hasil hutan dan berburu, tapi ketika program pemerintah melalui transmigrasi yang terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit skala besar, ruang hidup dan kelola Orang Rimba perlahan menyempit. Dan kadang-kadang, Orang Rimba yang Melangun (tradisi berpindah ketika ada anggota keluarga yang sakit) ditemukan di kebun-kebun perusahaan dan bahkan sering ditemukan di kebun petani-petani swadaya, termasuk di kebun anggota Gapoktan Tanjung Sehati. Interaksi ini kadang-kadang juga memunculkan ketegangan, karena petani menganggap bahwa keberadaan Orang Rimba yang sedang membangun pondok di kebun adalah mengganggu kebun milik petani anggota GTS. Kadang-kadang juga kegiatan Orang Rimba tersebut berdampak pada sungai yang ada didalam kebun GTS.

Agar ketegangan seperti ini tidak selalu muncul antara anggota GTS dan Orang Rimba, hingga pada hari Minggu tanggal 23 Agustus 2020 lalu bertempat di kantor GTS, GTS bersama dengan pihak Kecamatan, Pemerintah Desa melakukan dialog dengan perwakilan Orang Rimba Kelompok Makekal Hulu. Sekitar 10 perwakilan Orang Rimba hadir dan mengikuti diskusi yang difasilitasi oleh pihak Kecamatan.

Dalam diskusi tersebut, perwakilan Orang Rimba mengatakan bahwa “Kami tidak pernah diajarkan nenek moyang kami merusak lingkungan, kami menjaga hutan sejak lama, tapi kedatangan orang luar dan mengajarkan hal-hal buruk pada kami, dan kami ikut. Kami tidak boleh meracun sungai, karena sungai itu sumber kehidupan, jangannya meracun sungai, membuang kotoran disungai saja, tidak boleh.” ungkap perwakilan Orang Rimba.

“Kami sangat mendukung kerja-kerja masyarakat desa ini, karena memang harusnya macam itu.” sambungnya lagi ketika mendengar penjelasan dari Ketua GTS tentang program GTS untuk melindungi sungai yang ada di dalam desa, dan program GTS untuk mencegah kebakaran lahan.

Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan, yaitu :

  1. Gapoktan Tanjung Sehati akan melakukan normalisasi sungai di wilayah kerja GTS, hal ini sebagai komitmen GTS dalam melestarikan lingkungan dan komitmen GTS terhadap implementasi standar minyak sawit berkelanjutan.
  2. Orang Rimba berkomitmen dan bersedia ikut serta menjaga dan melestarikan lingkungan terutama sungai maupun sumber air lain. 
  3. Pemerintah terkait akan memberikan himbauan kepada toko penjual bahan kimia agar tidak menjual kepada Orang Rimba, agar tidak ada peluang untuk menggunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. 
  4. GTS akan merancang program pemberdayaan untuk Orang Rimba, untuk meningkatkan sumber pendapatan Orang Rimba. 
  5. Melanjutkan dukungan Sekolah untuk Orang Rimba yang dilakukan oleh salah satu anggota GTS yang juga salah satu pengurus Kelompok Tani. 

Ini adalah bentuk kolaborasi positif antara masyarakat transmigrasi dengan Orang Rimba Bukit 12, dan hendaknya ini menjadi model dan contoh bagi desa-desa lain guna mengakhiri ketegangan dan mulai membangun masa depan secara bersama.

Standar Minyak Sawit Berkelanjutan akhirnya menjadi norma di Gapoktan Tanjung Sehati, dan menjadi aturan baru bagi perlindungan lingkungan, perbaikan interaksi sosial dan pemulihan masa depan.



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)